Sebuah penjelajahan menuju kekayaan warisan tekstil Lampung serta tradisi teranyam di balik keindahan kain tapis yang khas.
Di antara berbagai kisah pribadi dan ikatan emosional yang membentuk identitas Suak, terdapat sebuah koleksi ekstensif kain Tapis Lampung yang dikumpulkan secara telaten selama lebih dari tiga dekade oleh salah satu pemilik resort, Greg Pankhurst.
Menghabiskan lebih dari separuh hidupnya di Indonesia, Greg membangun ikatan yang sangat mendalam dengan negeri ini, khususnya dengan kawasan Lampung. Selama bertahun-tahun, ikatan tersebut tumbuh menjadi gairah dan kecintaan pada kebudayaan, kerajinan tangan, serta tradisi lokal, disertai keinginan kuat untuk membantu melestarikannya.
Terletak di ujung selatan Pulau Sumatra, Lampung memiliki warisan budaya yang kaya, yang sebagian dibentuk oleh posisinya di sepanjang Selat Sunda serta jalur perdagangan maritim yang menghubungkan wilayah ini dengan mancanegara di Asia, Timur Tengah, hingga Eropa. Lalu lalang manusia, bahan baku, serta pemikiran melalui jalur-jalur perdagangan ini turut memperkaya keberagaman tradisi dan keunikan warisan tekstil yang dapat kita temukan di Lampung saat ini.
Di antara tradisi paling ikonis di wilayah ini adalah kain tapis—sebuah kain tenun tangan yang terikat erat dengan kehidupan budaya dan upacara adat masyarakat Lampung. Diwariskan secara turun-temurun antar-generasi, tapis dicirikan oleh sulaman yang rumit, motif yang sarat makna, serta penggunaan benang emas atau perak. Setiap helainya memancarkan keahlian serta kreativitas sang perajin, sekaligus menyimpan keterkaitan tersendiri dengan tradisi dan komunitas asalnya.
Bagi Greg, helai demi helai tekstil ini merepresentasikan sesuatu yang lebih dari sekadar keindahan seni kerajinan tangan. Kain-kain tersebut adalah bukti nyata dari warisan budaya Lampung—sebuah tradisi bernilai tinggi yang patut diakui, dihargai, dan dilestarikan.
"Saya pernah tinggal di Jabung dan menghabiskan waktu untuk mengenal keluarga-keluarga di sana. Dari hubungan yang terjalin tersebut, saya mulai mempelajari cerita di balik kain tapis—dari mana asalnya, siapa yang membuatnya, dan apa maknanya bagi keluarga pemiliknya. Banyak dari kain yang saya temukan berasal dari daerah ini, dan dari pengalaman itulah minat saya untuk mengumpulkannya bermula. Hingga hari ini saya masih mengumpulkan kain tapis, namun khusus dari Lampung. Bagi saya, ini adalah upaya untuk melestarikan kain-kain tersebut beserta kisah dan tradisi yang dibawanya."
Kini, koleksi Greg mencakup sekitar 5.000 helai kain tapis yang dikumpulkan selama lebih dari 30 tahun. Walaupun sebagian tekstil pilihan dipajang di Suak Sumatera Resort, bagian lain dari koleksi ini dirawat dan dilestarikan di Australia. Secara keseluruhan, koleksi ini membentuk rekaman sejarah yang luas atas warisan tekstil Lampung serta tradisi yang terus menginspirasi Greg sepanjang bertahun-tahun masa hidupnya di Indonesia.
Di Suak, koleksi ini menemukan ruangnya tersendiri dalam jalinan cerita perjalanan resort. Dipajang anggun di berbagai kamar dan sudut ruangan yang membentuk Suak, kain-kain tekstil ini memberikan kesempatan bagi para tamu untuk menyapa bagian istimewa dari warisan budaya Lampung—bukan sekadar sebagai pajangan untuk dilihat, melainkan sebagai bagian utuh dari tempat yang tengah mereka kunjungi.
Melalui cara inilah, koleksi tapis mencerminkan jiwa utama dari Suak: sebuah keaslian tempat yang dibentuk oleh masyarakat, kisah perjalanan, keahlian tangan, serta tradisi luhur Lampung.
Menginap di Hari Kerja
2.300.000 / Malam